Married to Cho Kyuhyun part IV

maaaaaaf banget baru bisa update lagi… maaf juga kalo setiap ngepost selalu minta maaf #abaikan ㅋㅋㅋ

Oh iya, disini ada cast baru lho kekeke

Nggak tau mau ngomong apa, silahkan menikmati aja yaaa.

Ps, untuk konfilk, aku sebenernya ga begitu suka sama cerita yang terlalu banyak konflik. Meenurut aku kalo baca yang terlalu banyak konflik malah ikutan mikir, jadi pusing sendiri.. dan lagi, menurut aku baca ff itu adalah hiburan untuk menghilangkan stress, jadi mungkin nanti konflik yang ada cuma konflik konflik kecil aja….

Dan maaf lagi untuk Janda ketemu duda sama thr baby sitter belom bisa lanjutin. Buntu banget… minta doanya aja supaya ide bisa muncul….

Yasudahlah selmat menikmati
:D

~Married to Cho Kyuhyun part IV~

Aku memandang pantulan diriku di pada cermin di meja rias. Perfect! Long dress berlengan panjang berwarna hijau tosca, wedges bertali setinggi tujuh centimeter berwarna coklat, clucth berwarna senada dengan sepatuku. Rambutku panjanku kubiarkan tergerai, sedikit membuatnya bergelombang. Riasan wajah yang natural, serta lipstick berwarna pink membuatku terlihat lebih segar. Aku tersenyum saat melihat pantulan Kyuhyun didepanku. Ia sudah siap dengan setelan jas serta kemejanya yang berwarna hijau tosca.

“kau menyamaiku, huh?“ aku bangkit lalu berbalik menghadapnya. Tanganku refleks menyentuh bahunya, sedikit menepuknya. “apa salahnya? Kita kan suami istri, dan aku juga ingin membuat Ahra noona dan Songhoon iri pada kita kekeke,“ Kyuhyun terkekeh sendiri. Aku diam memandangnya tepat pada manik matanya. Dengan cepat kurasankan bibir Kyuhyun menyentuh bibirku, dia melepaskan bibirnya lalu berbisik ditelingaku,

“yeppeo“

_····_

Kami tiba diwaktu yang sama dengan Songhoon, dia sangat cantik dengan long floral dressnya yang berwarna maroon. Entah, tapi Songhoon memang selalu terlihat cantik bila menghunakan motif bunga. Clutch berwana merah serta high heels merah dengan pita pada bagian belakangnya membuatnya semakin sempurna. Beruntung namja yang mendapatkannya nanti.

“kau datang sendiri? Mana eomma dan appa?“ tanyaku saat setelah memeluknya

“eomma dan appa sudah dari satu jam yang lalu sampai disini, tadi aku ada kuliah tambahan, jadi aku menyusul,“ ucapnya lalu beralih memeluk Kyuhyun. “annyeong oppa, mossiseoyo,“ pujinya yang hanya dibalas kekehan kecil oleh Kyuhyun

“ayo masuk, kurasa mereka sudah menunggu kita,“ kataku pelan, Kyuhyun langsung menggenggam tanganku lembut, aku melirik tanganku yang digenggamnya lalu tersenyum padanya

“aigoo, kalian membuatku iri,“ kudengan Songhoon mendengus. “maka dari itu, cari pacar Hoon-ah,“ ejek Kyuhyun yang dibalas cibiran tidak jelas oleh Songhoon.

“eomma kami datang,“ teriak Kyuhyun saat kami memasuki rumah.

“wah kalian sudah datang,“ eomma Kyuhyun -yang sekarang menjadi eommaku juga- lalu memelukku dan Kyuhyun. “eoh, kau juga sudah tiba Songhoon-ah“ eomma beralih memeluk Songhoon.

“ayo masuk, oh ya, didalam ada Luhan, Kyu,“ eomma menarik tanganku dan Songhoon untuk mengokutinya. “Luhan siapa eomma?“ tanyaku. “ dia dulu tetangga kami, sudah seperti anakku sendiri, dia juga sangat dekat dengan Kyu,“ aku dan Songhoon hanya mengangguk.
Aku memeluk eomma dan appaku. Aku rindu pada mereka.

“hyuuuuung,“ terdengar teriakan, aku mencari dari mana asal teriakan tersebut. Kulihat namja yang tidak lebih tinggi dari Kyuhyun yang kuyakini adalah Luhan.

“Luhan-ah,“ Kyuhyun memeluk lelaki tersebut. “kapan kau datang?“ Kyuhyun merangkul Luhan lalu mereka duduk di sofa yang masih kosong. “tadi sore hyung,dan ajjuma langsung memintaku mengikuti jamuan makan malam ini, yang mana istrimu hyung?“

“sayang, kemari sebentar, Hoon-ah kau juga, kemari,“ aku berdiri dan berjalan menghampirinya diikuti Songhoon dibelakangku.

“kenalkan, ini Nam, ah anhi, Cho Sunghyo, istriku. Dan ini, Nam Songhoon, adik iparku,“

“annyeong, Songhoon imnida,“ ucapku tersenyum pada Luhan
“annyeong noona, boleh aku memanggilmu seperti itu, kupikir kau lebih tua dariku,“ Luhan menjabat tanganku. “tentu saja Luhan-ah,“ ucapku yang membuat aku, Kyuhyum dan Luhan tertawa.

“annyeong, Luhan imnida,“ Luhan beralih pada Songhoon.
“nde, annyeong, Songhoon imnida,“ Songhoon tersenyum malu. Aigoo lucu sekali adikku itu, hihi.
“panggil dia oppa Hoon-ah, dia lebih tua satu tahun,“ perintah Kyuhyun
“nde, annyeong Luhan oppa,“.

_····_

Makan malam berlangsung dengan hikmat… setelah makan, kami semua berbicang diruang tamu. Sebenarnya lebih banyak Luhan yang bercerita pengalamannya selama menetap hampir enam tahun di Paris. Dia banyak membuat kami tertawa dengan cerita konyolnya. Adik yang menarik.

“maaf nyonya, tuan saya mengganggu,“ ucapan bibi Jung menginterupsi perbincangan kami semua. Sontak kami semua menengok ke arahnya. Mataku membulat melihat gadis kecil yang berdiri disebelahnya.

“anak itu siapa bi?“ tanyaku yang diikuti anggukan kepala oleh semuanya. “maaf nyonya, tadi sanya menemukan anak ini di depan rumah saat saya membuang sampah, sepertinya anak ini tersesat. Dia hanya diam saat saya bertanya tentangnya,“ jelas bibi Jung panjang lebar. Kami semua mengangguk.

“yasudah biar anak itu bersama kami disini, bibi bisa kembali ke dapur,“ ucap abonim tegas. Bibi Jung mengangguk lalu kembali ke dapur

Anak itu hanya berdiri diam. Dia memandangi kami semua lalu menundukkan kepalanya. Aku berdiri, berjalan ke arah gadis kecil itu, “ sini duduk sama ajhuma,“ ku gamit tangannya yang mungil. Gadis kecil itu hanya diam dan berjalan mengikutiku. Kududukkan dia diantatku dan Kyuhyun. Semua mata diruangan ini memandangnya.

“namamu siapa, cantik?“ ku elus rambut panjangnnya. “namaku Aleyna, ajhuma,“ dia masih menunduk. “jangan menunduk sayang, sini, lihat ajhuma,“ kuangkat dagunya pelan. Aku tersenyum memandangnya, gadis ini cantik. Cantik sekali malah. She‘s adorable untuk ukuran anak kecil sepertinya.

“kenapa kamu bisa ada di depan rumah halmoni, sayang?“ tanya eomma sambil tersenyum. Tapi kemudian raut muka anak itu berubah sedih. “tadi ajhumaku menurunkanku di depan rumah ini, dia menyuruhku menunggu selagi ia membelikan ice cream untukku, tapi ajhuma tidak kembali,“ dia terisak pelan. Aku refleks memeluknya.

“ssssh, kenapa sayang?“ aku menangkup pipinya. Dia masih menangis, aku tidak tega melihatnya. “ajhuma selalu saja begitu. Ini sudah kesekian kalinya ajhuma meninggalkanku sendirian, ajhuma memang tidak pernah baik padaku,“ tangisannya semakin keras. Pelukanku semakin mengerat padanya.

“dimana orangtuamu?“ tanya Kyuhyun sambil mengelus kepalanya lembut. “kata ajhumaku, kedua orangtuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat, aku juga tidak pernah melihat mereka kecuali di foto,“ tangisnya perlahan mulai berkurang. Aku masih memeluknya. Aku menatap Kyuhyun penuh arti seolah berkata ‘bisakah kita membawanya pulang?‘ dan Kyuhyun mengangguk. Aku menggumamkan ‘gomawo‘ tanpa suara. Dia tersenyum dan mengelus kepalaku.

“Aleyna mau tinggal sama ajhuma dan ajhusi?“ ucapku sambil mengankatnya dalam pangkuanku. Eomma, appa, eomma Kyuhyun dan appa Kyuhyun memandangku. “apa kau yakin?“ ucap mereka tanpa suara. Kujawab dengan anggukan pasti.

“iya, Aleyna tinggal sama ajhuma dan ajhusi aja, nanti kita main sama sama,“ ucap Songhoon. “tapi ajhuma dan ajhusi tidak akan menunggalkanku kan?“ tanyanya polos. “ne!“ jawab Kyuhyun mantap, “ asalkan kau berjanji menjadi anak yang baik,“. Aleyna tersenyum senang, “ nde aku janji akan menjadi anak yang baik,“ Aleyna mencium pipiku “gomawo ajhuma,“ ucapnya manis. “iya sayang,“ aku gantian mencium pipinya. “Aleyna nggak mau cium ajhusi, huh?“ aigoo Kyuhyun ini lucu hihi. Aleyna lalu mencium pipi Kyuhyun, “gomawo ajhusi,“

_····_

Aku dan Kyuhyun sedang menemani Leyna -aku dan Kyuhyun memanggilnya begitu- makan. Anak ini lucu sekali, bahkan saat makan. “pelan-pelan sayang makannya,“ aku mengelap saus pasta yang tertinggal di sudut bibirnya.
“aku sudah lama tidak makan seenak ini, ajhuma selalu memberi makanan yang tidak layak untukku,“ aku sedih mendengarnya. Kasihan sekali anak ini. “mulai besok, Leyna bilang ya pada ajhuma dan ajhusi kalau lapar,“ dia mengangguk dan melanjutkan makannya.

“apa ini rumah ajhuma dan ajhusi?“ tanyanya setelah menyelesaikan makannya. Kemudian diminumnya air putih pada gelas yang terletak di depannya. “aniyo, ini rumah Cho halmoni dan Cho haraboji,“ Kyuhyun mendudukan Leyna di pangkuannya. Aku tersenyum melihat pemandangan ini, mereka seperti ayah dan anak. Mungkin aku harus merayu Kyuhyun untuk mengangkat Leyna menjadi anak kami.

“Leyna senang disini, bersama ajhuma dan ajhusi?“ tanya Kyuhyun pada Leyna tiba tiba. “eo, kerom, ajhusi dan ajhuma baik,“ ucapnya polos. “ayo kita kembali keruang televisi, mereka pasti menunggu kita,“ sejurus kemudian kugenggam tangan kanan Leyna, dan Kyuhyun mengenggam tangan kirinya. Kami berjalan sambil menganyunkan tangan kami.

“jinjja, oppa, eonni, kalian terihat seperti keluarga bahagia,“ Songhoon berucap tiba tiba
“tentu saja kami keluarga bahagia, maksudmu apa Hoon-ah?“ Kyuhyun terlihat jengkel dengan perkataan Songhoon.
“anhi, maksudku, dengan adanya Leyna ditengah kalian, kurasa kalian sudah cocok menjadi sosok orang tua,“
“geurae?“ tanyaku memastikan
“eo,“

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi para lelaki -appa, aboji, Kyuhyun dan Luhan- masih setia menatap televisi karena masih berlangsung siaran pertandingan club favorit mereka. Aku hanya duduk mengobrol dengan Songhoon. Eommaku dan eomma Kyuhyun masih bermain bersama Leyna. Mereka bilang, mereka sangat senang dengan kehadiran Leyna, tentu saja. Leyna sangat cantik, pintar, baik dan periang. Siapa yang tidak akan terpesona dengannya.

Kulihat Leyna berjalan kearahku sambil menguap dan sesekali mengucek matanya, tanda bahwa ia sudah mengantuk. Leyna mendudukan dirinya di sampingku lalu bersender pada bahuku. Aku hanya diam membiarkannya, kuelus punggung tanganya lembut. Tak lama Kyuhyun datang menghampiriku dan Leyna lalu duduk di sisiku yang tidak ditempati Leyna

“Kurasa Leyna sudah mengantuk, sayang, apa kau juga?“ Kyuhyun menyenderkan kepalaku pada dadanya.
“em,“ aku menghirup wangi tubuhnya, aku rindu bermanja padanya.
“Leyna, sini sayang sama ajhusi,“ titah Kyuhyun dan Leyna mengikutinya. Leyna naik kepangkuan Kyuhyun memeluknya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memelukku.

“Leyna, panggil ajhuma dengan sebutan eomma, dan appa untuk ajhusi,“ pintaku padanya. Mataku berbinar binar, entah kenapa aku ingin sekali dipanggil eomma olehnya. “apa boleh?“ tanyanya sambil bagkit dari pangkuan Kyuhyun. Aku dan Kyuhyun menjawabnya dengan anggukan.

“eomma, appa,“ ucapnya pelan, entah, rasanya sangat bahagia mendengar Leyna memanggilku eomma. “sini sayang, sini peluk eomma,“ kurentangkan tanganku untuk memeluknya. Kupeluk erat tubuhnya diikuti Kyuhyun yang memelukku sekaligus Leyna.

“Leyna sayang eomma dan appa,“ ucapnya kemudian mencium pipiku dan Kyuhyun secara bergantian.

_····_

Aku menggeliat dalam pelukan hangat Kyuhyun. Semalam kami sampai dirumah pukul setengah satu dini hari. Dan beruntung hari ini hari ini hari minggu, jadi aku bisa lebi santai. Kulirik jam meja yang terletak pada nakas disamping tempat tidurku. Ah sudah pukul tujuh rupanya. Aku beralih pada Kyuhyun yang masih terlelap disampingku.

“sayang, bangun,“ ucapku pelan. Kuelus pipinya lalu kukecup pelan kedua pipinya. Dia membuka matanya. “aku mau morning kiss ku disini,“ dia menunjuk bibirnya. Kukecup bibirnya. Tapi respon berbeda yang kudapatkan darinya. Dia melumat bibirku, menghisapnya perlahan membuatku melenguh nikmat
“ngh… Kyu…,“ aku mendesah saat dia memasuka lidahnya dan menjelajahi mulutku. Tangannya yang ada di pinggangku perlahan mengangkat gaun tidurku yang memang sedikit tersingkap. Kegiatan kami terhenti saat sebuah suara mengagetkan kami.

“eomma, appa,“ ucap sebuah suara. Kami menengok kearah sumber suara tersebut.
“Leyna,“ ucap kami bersamaan.

To be continue…..

ㅋㅋㅋㅋ

Maaf banget ya kalo ceritanya garing dan maaf kalau banyak typo, karena ini no editing..

Maaf juga kalau terlalu banyaj Aleyna di part ini. Abis dia cantik banget sih. Kalo belom tau siapa aleyna, coba googling ALEYNA YILMAZ ato bisa juga search di tumblr.

Udah sgitu aja deh…  makasih buat segala sesuatu dan semuanya… semoga ga mengecewakan ya :D

Married to Cho Kyuhyun Part III

Sunghyo‘s POV

Aku menggeliat pelan dalam tidurku. Kuhirup wangi maskulin dari pria yang tangannya melingkari perutku. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam, kusentuh kedua pipiku, pasti merah seperti tomat,pikirku

“pagi nyonya Cho,“ mata Kyuhyun terbuka, senyum tersungging dibibirnya
“pagi tuan Cho,“ balasku ikut tersenyum. Dia mencoba duduk menyamaiku dengan cara menopang tubuhnya dengan kedua sikunya. Lalu wajahnya mendekat kearahku. Aku hanya diam saat dia mengecup bibirku, Kyuhyun melepas bibirnya lalu tersenyum manis. “gomawo untuk semalam, sayang,“ ucapnya lalu memelukku. Ada getaran tersendiri saat dada kami yang polos itu bersentuhan. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya dan menenggelamkan  wajahku pada dada bidangnya. “cheon, sudah seharusnya kan?“ ucapku sembari mencium dadanya. “ya! Jangan menggodaku sayang atau kalau tidak kau akan tertahan di tempat tidur ini bersamaku seharian,“

Aku melepaskan pelukan kami, “apa semalam belum cukup ha? Kita melakukannya lebih dari 3 jam suamiku sayang,“ aku membelai pipinya lalu menepuknya pelan. “ja! Kau mandi sana, akan kusiapkan sarapan untukmu,“ aku bangkit dari dudukku menggunakan selimut, membuka lemari lalu mengambil dress santai dan memakainya.

Kurasakan tangan melingkar di perutku, “ arraseo, buatkan aku sarapan yang istimewa eo?“ ujarnya lalu pergi memasuki kamar mandi sebelumnya ia mencium pipiku.

Aku mulai memasak, menumis bumbu bumbu yang kubutuhkan. Aku

tersenyum mengingat

statusku sekarang yang sudah bersuami. Akan sangat seru sepertinya menjalankan aktivitas yang belum pernah kulakukan. Bangun dipagi hari dan mendapat ciuman selamat pagi, membuat sarapan untuknya, menyiapkan pakaiannya. Aku masih tersenyum sampai aku mencium bau gosong. Sialan, gara gara Cho Kyuhyun. Terpaksa aku mengulang masakanku.

__···__

Hari ini hari Senin, itu artinya aku dan Kyuhyun sudah harus kembali ke kantor setelah libur seminggu yang abonim berikan pada kami. Rutinitasku pagi ini masih sama seperti hari hari sebelumnya setelah aku menikah. Hanya bedanya kali ini kami akan pergi ke kantor bersama sama. Aku membayangkan teman teman kantorku yang akan memberondong pertanyaan tentang pernikahanku dengan anak presdir yang terkenal ketampanannya itu, Cho Kyuhyun.

Ya, aku akui, suamiku itu tampan, sangat malah. Apalagi sehabis  mandi, saat dia mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ugh itu sangat mempesona.

“cantik,“ ucap sebuah suara yang menyadarkanku dari lamunanku. “kau juga tampan,“ ucapku sambil memoles sedikit blush on pada pipiku. “keurom, dan anak kita pasti akan sangat cantik dan tampan seperti orangtuanya,“ sifat narsisnya muncul lagi, seminggu kami libur cukup bagiku untuk mengenalnya. Aku meletakkan alat riasku pada satu kotak khusus. Berdiri sembari meneliti penampilanku, perfect! “kajja,“ aku mengulurkan tanganku pada Kyuhyun yang duduk di sofa yang tersedia dikamarku, yang sedang konsentrasi pada tabletnya, membaca berita mungkin? Sesaat kemudian, dia mematikan tabletnya dan menerima uluran tanganku.

Kyuhyun memberhentikan mobilnya di pintu utama perusahaan, aku keluar setelah petugas membuka pintu untukku.  Aku dan Kyuhyun berjalan beriringan. Kurasakan semua pandangan tertuju pada kami. Aku hanya membungkuk. Kenapa perjalanan dari pintu utama menuju lift terasa sangat lama, keluhku dalam hati. Aku sangat risih  dipandangi oleh banyak orang, rasanya seperti orang yang melakukan hal buruk. Langkahku terhenti saat kurasakan langkah pria disampingku terhenti. Aku mangankat wajahku menghadapnya, menerka apa yang akan ia lakukan. Sejurus kemudian, ia menggenggam tanganku lembut. “ kembalilah kalian bekerja dengan benar, aku tidak suka dengan pandangan kalian yang membuat risih istriku,“ ucapnya lantang, aku shock mendengarnya, kurasa dia agak kesal dengan karyawan disini.

Kemudian Kyuhyun menggenggam tanganku lalu menggiringku memasuki lift. Para karyawan yang sudah menunggu lift menyingkir dengan sendirinya saat aku dan Kyuhyun memasuki lift. Mungkin mereka masih agak shock dan takut mendengar perkataan Kyuhyun tadi. Dan jadilah disini, di dalam lift, kami berdua. Menuju lantai 15.

“Kyu, tidak seharusnya kau berkata seperti tadi,“ ucapku setelah sebelumnya hanya diam mengunci mulut. “anni, mereka wajar kuperlakukan seperti tadi, aku tidak suka mereka memandangimu seperti itu,“ ia menghadap kearahku, tangannya menangkup wajahku dan mengecup bibirku. Perlahan kecupan ini berubah menjadi lumatan yang hangat. Tanpa sadar aku mengalungkan kedua lenganku pada leher Kyuhyun, ia melingkarkan tangannya pada pinggangku dan mengelus punggungku. Jemariku menelusuri rambut rambutnya yang halus. Aku menarik ciuman kami, nafas kami sama sama tersengal. Kyuhyun tersenyum menatapku lalu mengecup bibirku kilat.

“sepertinya kita harus melakukan kegiatan baru kita ini setiap hari, sebagai penyemangat kerja,“ ucapnya sambil terkikik geli. “dan aku harus membetulkan make up ku setiap hari, kau lihat lipstick ini sudah pudar karena ulahmu,“ gerutuku. Sudah canti cantik tapi hancur karena ulah suamiku itu. “tapi kau senang kan?“ ucapnya menggoda. Aku hanya mengerucutkan bibirku.

TING!

Pintu lift terbuka, itu menandakan kami sudah sampai di lantai 15. Kami keluar beriringan. Kuhentikan langkahnya, kubetulkan letak dasinya yang sudah tidak karuan. Serta kutata kembali rambutnya yang berwarna coklat moka tersebut. “terimakasih sayang,“ ucapnya lalu mengecup pipiku dan aku hanya tersenyum. “kita bertemu saat makan siang hm?“ dan aku membalasnya dengan anggukan. Dia lalu berjalan ke arah yg berlawanan denganku, tempat dimana ruangannya berada. Aku berbelok ke kamar mandi sebelum memasuki ruanganku. Apa kata Jae In kalau dia melihat dandananku yang sudah seperti wanita penggoda dengan lipstick yang sudah berantakan.

“akhirnya pasangan baru ini kembali juga,“ ucap Jae In diiringi tawa kecilnya. “ ya! Diam kau,“ aku menaruh tas ku lalu menyalakan tabletku untuk mengecek jadwal yang telah diberikan sekertaris Hwang padaku

“eonni, bagaimana rasanya menikah? Apakah menyenangkan? Dan bagaimana malam pertamamu?“ ucapannya yang terakhir membuatku yang sedang meminum jus stoberi yang memang selalu disediakan untukku setiap pagi berceceran dimejaku karena aku memuncratkannya. Aku menatapnya garang. “wae eonni? Aku kan hanya bertanya,“ katanya sok polos. “kalau kau ingin tahu bagaimana rasanya, menikah saja dengan Joongki oppamu itu,“ Jae In lalu menunduk, tak lama keluar semburat merah di kedua pipinya, pasti anak itu sedang membayangkan dirinya menikah dengan Joongki oppa. Anak itu kan senang sekali menghayal.

_····_

Kyuhyun‘s POV

Ini baru jam sebelas siang dan aku sudah merindukannya. Kami memang belum pernah terpisah lebih dari tiga jam setelah kami menikah. Karena kami melakukan kegiatan selalu bersama sama. Aaah aku merindukan wajahnya yang manis itu. Sedang apa dia?

Sayang, sedang apa?

Aku mengetik sebuah pesan padanya

Kau tahu aku sedang bekerja.

Sebuah balasan darinya tiba. Aish wanita ini

Aku merindukanmu sayang

Ya Tuhan Cho Kyuhyun, kita baru berpisah selama empat jam. Kau kenapa?

Anni, cha gwenchanha. Keunyang, bogosipeo :*

Kita bertemu saat makan siang nanti suamiku sayang

Arraseo, sampai bertemu saat makan siang istriku

Ne, na ddo bogosipeo :*

aku tersenyum membaca pesan terakhirnya. Ternyata eomma tidak salah memilih istri untukku karena pilihan eomma ini tidak bisa mengalihkan mata hati dan pikiranku.

_····_

Sunghyo‘s POV

Aku menemani Kyuhyun yang terduduk pada sofa ruang televisi kami yang didepannya terdapat laptop dan lembaran lembaran laporan tugas kantor yang harus ia kerjakan. Seminggu ini kerjaannya bertambah karena minggu lalu kami diberi libur oleh abonim. Aku sedikit kesal pada Kyuhyun. Besok sabtu dan kantor libur. Kenapa dia harus mengerjakannya sekarang?! Aku mengganti saluran televisi secara acak dengan tidak minat.

“Kyu sayang, kenapa kau harus mengerjakan pekerjaan ini sekarang? Besok akhir pekan sayang,“ ucapku manja, berharap dia akan berhenti mengerjakan tugas kantornya tersebut

“maaf sayang, aku harus mengerjakan ini sekarang supaya besok aku bebas ne?“ pintanya

“tapi Kyu….“

“setengah jam lagi hm?“

Aku mengangguk mengiyakan dan kembali memfokuskan diriku pada televisi. Aku tersenyum saat merasakan bibir Kyuhyun mendarat di pipiku

_····_

Aku mengikat rambutku keatas dan merapikan hoodie berwarna hijau tosca milikku.
“aigoo yepeunde, kyeowo“ Kyuhyun mencubit pipiku gemas. “appo,“ aku mengerucutkan bibirku. Aku baru sadar, ternyata aku sering bersikap manja belakangan ini. Ternyata bersikap manja pada seseorang yang kita sayang dan menyayangi kita sangatlah menyenangkan

“aigoo mianhae sayang,“ Kyuhyun mengelus pipiku. Aku mengangguk sembari tersenyum. Aku memandang Kyuhyun yang begitu tampan malam ini, jaket kulit hitamnya begitu pas dibadannya. Celana jeans hitam, kaus putih, dan converse putihnya sangat serasi.

“kajja,“ Kyuhyun menarikku keluar apartment lalu memasuki pelataran parkir, dan kemudian berhenti tepat disamping motor sport miliknya.  Kyuhyun bilang dia akan mengajakku jalan jalan malam setelah ia menyelesaikn pekerjaannya. Sepanjang jalan aku terus memeluk pinggangnya. Kyuhyun mengelus punggung tanganku dan itu membuatku semakin nyaman.

Kami berhenti di pinggiran sungahi Han. Masih banyak pasangan yang menikmati malam. Aku menjatuhkan kepalaku pada bahunya yang nyaman. Kyuhyun mengusap kepalaku sayang, “johaeyo?“ tanya. “hm, gibuni joha,“ aku mengangkat kepalaku lalu menatap wajah tampannya, “gomawo tuan Cho,“ aku mengucapkannya cepat lalu membuang mukaku karena aku malu. “kau lucu sayang, dan sama sama,“ selanjutnya yang ia lakukan adalah mengacak rambutku. Inilah kebiasaan barunya setelah menikah.

Kudengar bisikan orang orang disekitar kami bahwa ada bintang jatuh. “Hyo sayang, ada bintang jatuh, ucapkan permintaanmu,“ katanya cepat lalu menghadapku dan menggenggam tanganku. “Tuhan, terimakasih atas hidup yang kau berikan padaku, berikanlah cinta yang indah dalam kehidupan pernikahanku dan jagalah cinta yang ada di antara ku dan suamiku, Cho Kyuhyun. Serta berilah suamiku kehidupan yang indah,“ aku membuka mataku setelah mengucapkan keinginanku dihadapan suamiku. “kau yang terbaik Hyo ah, terima kasih,“ Kyuhyun memelukku. Ini malam yang indah, Tuhan kabulkanlah permintaanku…

To be continue….

Huwaaaaaa akhirnyaaaaaa entah seneng banget nulisnya, mood lagi bagus banget… maaf kalau updatenya terlalu lama karena saya sibuk kuliah dan terima kasih buat semua yang udah baca.. semoga part ini memuaskan kalian :)

Janda Ketemu Duda II

Part 2

“Jihyun-ah ayo sayang, halmeoni udah telfon terus nih dari tadi,” aku memasukan dompet dan handphoneku kedalam tas dan mengambil tas milik Jihyun diruang tamu
“ne eomma, kajja,”
Hari ini aku dan Jihyun akan bertemu dengan Jihyun’s dad and brother soon to be. Eomma bilang mereka akan datang kerumah keluargaku

—-…—-

Aku memarkirkan mobilku dihalaman rumahku. Kulihat ada dua mobil lain disana yang kuyakini milik tamu kami. Aku menggandeng tangan Jihyun memasuki rumah
“halmeoni!” teriak Jihyun saat memasuki rumah. Eomma dan appa langsung menghampiri kami
“Jihyun sayang cucu haraboji,” appa langsung menggendong Jihyun
“Jihyun sayang, lain kali jarang teriak kaya tadi lagi ya sayang,” nasihatku pada Jihyun yang hanya dibalas dengan anggukan kepalanya
Aku memasuki rumah, dan tersenyum saat melihat sepasang suamu istri yang mungkin seumuran dengan orangtuaku dan seorang anak lelaki. Tetapi kenapa mereka hanya bertiga?

“annyeonghaseyo, maaf kami terlambat, sedikit macet tadi,” aku membungkuk sembilan puluh derajat
“gwenchana, kami juga belum lama sampai,” ucap wanita itu sambil tersenyum
“Hyo-ah, ini tuan dan nyonya Cho, dan itu Jino, cucu mereka,” jelas eomma
“naneun, Nam Sunghyorago imnida, dan ini Jihyun putriku,” aku memperkenalkan diri diikuti Jihyun yang membungkuk sopan pada mereka
“ah ternyata ini calom menantuku, tidak salah pilih, cantik sekali,” ucap Cho ajumma. Aku tersipu mendengar pujian beliau. Lalu, bocah bernama Jino itu menghampiriku dan Jihyun

“annyeonghaseyo, naneun Jino imnida, banggabseumnida,” ucapnya dengan mata berbinar
“ne, annyeong Jino-ya,” aku mengelus rambutnya, halus. “Jihyun-ah, ayo beri salam pada keluarga Cho,” ucaplu pada Jihyun
“annyeonghaseyo, Jihyun imnida, banggapseumnida,”
“aigo, imutnya,” ucap Cho ajumma yang diikuti cubitannya pada pipi Jihyun. “Jino-ya, lihat adikmu ini, yeppeoda,” aku tersenyum mendengar pujian Cho ajumma

“ne, halmeoni, Jihyun cantik, kaya eomma, bolehkan aku panggil ajumma dengan eomma?” tanya Jino beralih padaku “kan nantinya ajumma yang jadi eommaku,” tambahnya dengan wajah polos dan tampannya. Membuatku tidak bisa menolak permintaanya

“ne, Jino-ya,” aku tersenyum padanya. Dia membalasnya dengan senyumannya disertai tatapan matanya yang berbinar. “Jihyun-ah, mulai sekarang, kamu panggil aku oppa ya,” pintanya pada Jihyun. Jihyun hanya mengangguk mengiyakan

Aku mendengar langkah kaki mendekat kearah ruang tamu, “mianhae lama menunggu,” ucap seseorang dengan suara bassnya. Aku menongakan kepalaku untuk melihat lelaki tersebut. Seketika aku membeku melihat lelaki tersebut. Bukankah dia Cho Kyuhyun dari Cho enterpraise?
“Sunghyo-ssi,”ucapnya saat melihatku
“ah, nde, Kyuhyun-ssi,” aku masih sedikit bingung dengan situasi saat ini. Kenapa Cho Kyuhyun bisa ada dirumahku?

“jadi kalian sudah saling kenal? Bagus kalau begitu,” ucapan eomma membuatku mematung. Apa maksudnya? Apa jangan jangan calon suamiku itu Cho Kyuhyun? Cho, eh? Ah, matda. Kalau calon suaminya seperti ini, rasanya akut idak akan menolak. Siapa yang akan menolak jika dijodohkan dengan pria tampan macam Cho Kyuhyun yang sangat terkenal dikalangan bussines women ini. Ah! Ani! Ani! Buang jauh jauh pikiranmu itu Hyo-ah.

“Kyu, ini wanita yang eomma ceritakan padamu kemarin. Dan ternyata kalian sudah saling mengenal,” ucap Cho ajumma senang
“ne eomma, kami megerjakan proyek yang sama saat ini,” jelas Cho Kyuhyun

“eo, arraseo, Kyu ini Jihyun, calon putrimu,” Cho ajumma menjelaskan “dan Hyo yang akan menjadi istrimu,” ucap eomma “ Jihyun-ah ayo beri salam pada appa,” perintah eomma pada Jihyun
“annyeonghaseyo ajjushi, ani, maksud Jihyun, annyeonghaseyo appa,” Jihyun membungkukkan badannya sopan. Tangan Kyuhyun terangkat menuju puncak kepala Jihyun dan mengelusnya gemas

“aigo, yeppeoda,” kini tangan Kyuhyun mencubit gemas pipi gembul Jihyun. “iyadong appa, Jihyun kan anak eomma, jadi Jihyun cantik kaya eomma,” ucap Jihyun diikuti senyum manisnya yang dibalas dengan senyuman oleh Kyuhyun
“karena semua sudah berkumpul, lebih baik kita makan sekarang, silahkan tuan Cho,” appa mempersilahkan keluarga Cho diikuti aku, Jihyun dan eomma
Selama makan, kami banyak berbicang, maksudku kedua orangtuaku dan kelurga Cho sedangkan aku lebih fokus pada Jihyun, karena walaupun dia bisa makan sendiri tapi masih sering berantakan
“eomma, aku mau daging itu lagi,” Jihyun menunjuk daging sapi lada hitam. Jihyun makan dengan lahap. “eomma aku juga mau daging itu lagi,” ucap Jino yang duduk disebelah kiriku saat aku mengambil daging untuk Jihyun. Aku mengambilkan daging sapi lada hitam untuk Jino setelah meletakan daging sebelumnya pada piring Jihyun
“gomawo eomma,” ucap Jino dan Jihyun berbarengan. “wah, kalian kompak sekali,” ucap Cho ajumma. Aku hanya tersenyum, “ne, cheonmaneyo sayang,”
—-….—-

Jihyun dan Jino sedang menonton kartun bersama orangtuaku dan orangtua Kyuhyun. Aku dan Kyuhyun duduk di saung kecil yang terletak dihalaman belakang rumah. Didepan saung ini terdapat kolam ikan dan air mancur kecil yang menimbulkan suara gemercik air.
Aku dan Kyuhyun duduk berdampingan. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara kami. Kami sama sama menggoyangkan kaki kami yang menggantung bebas dan tertawa bila kaki kami bertemu
“aku tidak menyangka kalau wanita yang dipilihkan oleh eomma adalah kau, Hyo-ah,” ucapannya memecahkan keheningan diantara kami
“nde, aku juga tidak menyangka kalau kita akan bertemu disini,” keheningan itu datang lagi. “Jihyun sangat senang saat eomma memberitahunya kalau dia akan memiliki seorang ayah dan seorang oppa,” tambahku, agar suasana diantara kami tidak canggung
“Jino do, dia senang karena akhirya dia bisa memiliki eomma. Aku kadang merasa bersalah pada Jino…” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya
“waeyo?” aku memiringkan kepalaku menghadapnya. Kami masih memainkan kaki kami
“aku selalu sibuk, sehingga aku jarang bisa menemani Jino bermain atau belajar. Bahkan kadang kami hanya bertemu saat sarapan, karena saat aku pulang Jino sudah tertidur. Mungkin hanya pada hari minggu kami bisa benar benar bersama,” Kyuhyun menundukan kepalanya dan menhentikan ayunan dikakinya, yang membuatku ikut menghentikan ayunan kakiku.

“aku merasa gagal menjadi seorang appa,” ucapnya lalu memalingkan mukanya menghadapku. Aku hanya diam, tidak tahu harus berkata apa, karena kadang aku juga merasakan apa yang dia rasakan. Aku dapat mengerti, sangat mengerti malah bagaimana rasanya menjadi orangtua tunggal yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Kyuhyun lalu menggenggam kedua tanganku, menempatkan tanganku dipangkuannya
“maka dari itu, bantu aku agar menjadi orangtua yang berhasil dengan menempatkanmu disisiku, sebagai ibu dari Jino dan sebagai istriku,” ucapannya kali ini membuatkan berdiam seperti batu
“aku juga akan berusaha menjadi ayah dan suami yang baik untukmu dan Jihyun,” aku masih terdiam. Aku merasa ini seperti mimpi dilamar oleh seorang pangeran
“aku tahu ini terlalu cepat, tapi maukah kau menikah denganku? kita bisa saling melengkapi. Entah, rasanya aku sangat yakin kali ini. Yakin kalau kau adalah pendamping yang tepat untukku,” Kyuhyun mengeluarkan sebuah kotak beludru dari saku jas yang ia kenakan dan membuka kotak tersebut
Disana ada sebuah cincin berwarna perak, tekesan sangat elegan dan mewah. Aku bingung harus menjawab apa. Aku sangat, sangat terkesan dengan ucapannya yang terdengar tulus. Dan aku bisa melihat ketulusan itu dari matanya. Dan juga, aku memikikan perasaan Jihyun yang sudah sangat senang memiliki ayah dan kakak. Kepalaku mengangguk dengan sendirinya. Dia tersenyum, senyum yang telihat tulus dari lubuk hatinya
“jeongmalyo?” tanyanya tak percaya
“hem, aku harap kita bisa saling melengkapi, dan menjadi orangtua yang baik untuk Jino dan Jihyun,” ucapku mantap. Bukankan sudah kukatakan, hidup adalah pilihan. Dan inilah pilihanku. Membangun sebuah keluarga baru dengan Cho Kyunyun yang akan diwarnai dengan kehadiran Jino dan Jihyun yang akan membuat hidupku lebih berwarna
“dan aku harap aku bisa menjadi figur suami yang sesuai untukmu,” aku mengangguk sambil tersenyum. Kyuhyun ikut tersenyum lalu menyematkan cincin itu di jariku lalu mengecup punggung tanganku dan memelukku. Aku tersenyum dalam pelukannya.

Married to Cho Kyuhyun II PG 15 to NC 17

Part 2

Sunghyo POV

Aku memarkirkan mobilku di pekarangan rumanku. Tadi eomma dan appa memintaku untuk mampir kerumah sebelum pulang ke apartementku. “na wasseo!” ucapku sedikit berteriak

“eo Hyo-ah wasseo!,” ucap eomma menyambutku, lalu disusul appa dan Songhoon, adikku

“eo, kenapa eomma dan appa menyuruhku kesini?” tanyaku to the point

“apa salah kalau kami menyuruhku pulang kerumahmu sendiri, huh?” eomma meletakkan secangkir lemon tea dan biskuit lemon di meja

“eonni, neo, kenapa kau tak bilang kalau punya namjachingu setampan Cho Kyuhyun?” tanya Songhoon menyikut lenganku. Aku yang sedang meminum lemon tea buatan eomma tersedak. Tahu dari mana dia soal Cho Kyuhyun?

“ah matda, kenapa tak menceritakan pada kami Hyo-ah kalau Cho Kyuhyun melamarmu? Untung saja tadi ayah Cho kyuhyun datang kemari bersama keluarganya dan juga Kyuhyun. Beliau meminta izin pada appa untuk menikahkanmu dengan Kyuhyun,
“ jelas appa

“mwo? Cho sajangnim kesini? Aish!” gerutuku. Ternyata Cho sajangnim sudah selangkah lebih dulu dariku. “ terus appa bilang apa pada keluarga Cho?” semoga saja appa menolak

“tentu saja appa setuju. Cho Kyuhyun itu pria yang tampan, baik dan terlihat cerdas. Dia sangat cocok denganmu,” aish, matilah aku. Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa menjelaskan yang sebenarnya pada keluargaku.

 

—-…—-

 

Kyuhyun POV

 

Seharusnya aku tidak usah menuruti kemauan eomma kalau akhirnya seperti ini. Apa ini? Aku dijodohkan, ani, lebih tepatnya dipaksa menikah dengan gadis yang sama sekali tidak aku ketahui kecuali namanya, Nam Sunghyo.

Aku heran kenapa aku bisa dinikahkan dengannya kalau orangtuanya sendiri tidak tahu kalau putri mereka akan dinikahkan. Yang mereka tahu malah aku adalah kekasih dari anaknya.

Dan apa apaan itu appa? Dia mengarang cerita pada keluarga Nam agar mereka mengizinkan putrinya menikah denganku.

 

Sunghyo POV

Disinilah aku sekarang, berada di depan altar. Kami telah mengucapkan janji suci itu. Janji antara kami dan Tuhan. Aku dan pria disampingku ini, yang sekarang telah menjadi suamiku, kami menerima pernikahan ini karena nyonya Cho terus saja meminta dan memohon pada kami berdua. Bahkan eommonimku itu tidak segan segan merecokiku bekerja.

Aku dan Kyuhyun sepakat untuk menjalani pernikahan ini, kedepannya biar waktu saja yang menentukan.

“mempelai pria dipersilahkan mencium mempelai wanita,” tiba-tiba suara pastor itu membuyarkan lamunanku. Apa? Mencium? Aku belum siap!

Perlahan Kyuhyun mendekatkan wajahnya padaku, aku menutup mata takut. Tak lama kurasakan bibir lembutnya mendarat di bibirku. Apa kataku barusan? Lembut? Sedetik kemudian Kyuhyun melepaskan bibirnya dari bibirku. Dia tersenyum padaku, akupun membalas senyumnya seadanya.

“eonni! Cukhae! Akhirnya kau menikah,” ucap Jae In terlihat senang, lalu memelukku erat

“cukhae Hyo-ah,” Joongki oppa memberi pelukan kecil padaku. Aku memang dekat dengan Joongki oppa, dia sudah seperti oppaku sendiri. Aku hanya mengangguk

“cukhae Kyuhyun-ssi, jaga dongsaengku baik-baik,” pesan Joongki oppa pada Kyuhyun

“tenang saja hyung,” ucapnya mantap. Bagaimana dia bisa menjagaku dengan baik, dia saja belum mengenalku dengan baik

“Hyo sayang, cukhae, aku senang melihat kau memakai baju pengantin seperti ini, kau cantik, as usual,” Jie Eun memelekku sangat erat. Aku menangis dipelukannya. Bukan menangis bahagia, lebih tepatnya menangisi nasibku. Bagaimana semua orang merasa senang melihatku menikah? Sedangkan aku sendiri tidak tahu perasaanku saat ini.

“Kyu, my bro! Congratulation for your wedding. Kau beruntung sekali bisa mendapatkannya. Aku dan Donghae yang mengincarnya dari lama saja tidak mendapatkannya, lalu kau? Hah sudahlah cukhae,” aku tahu itu Choi Siwon dari Hyundai corp. Kyuhyun mengenalnya?

“cukhae Sunghyo-ssi, aku senang melihatmu menikah walau bukan denganku,” dan ini Lee Donghae, ia tertawa lalu menepuk pundakku, “kau harus sabar dengan sahabatku yang satu ini,” ucapnya lalu meninggalkan aku dan Kyuhyun

“kau mengenal mereka?” tanyaku pada Kyuhyun saat sudah tidak ada orang disekitar kami

“siapa? Siwon dan Donghae?” tanyanya, aku mengangguk. “mereka sahabatku, wae?”

“ani,” aku hanya menggeleng

 

—-…—-

Kyuhyun POV

Aku dan Sunghyo pulang ke apartemen milik Sunghyo, karena Sunghyo menolak menerima apartement baru dari appaku. Dia merasa lebih nyaman tinggal di apartementnya, yang sekarang juga menjadi apartementku.

“Sunghyo-ah bangun,” aku menepuk pipinya pelan, membangunkannya. Kurasa dia lelah hari ini, buktinya dia tertidur saat perjalanan dari rumahku menuju apartementnya

Sunghyo menggeliat pelan lalu meneggakan tubuhnya. “kita sudah sampai, ayo turun,” ucapku. Aku membuka seatbeltnya, dia memberiku seyuman sebagai tanda terimakasih

Aku turun lalu membuka bagasi mobilku dan mengeluarkan koperku yang berisi pakaianku. Lalu aku membuka pintu belakang mobil dan mengambil kedua anakku, psp dan laptopku. “kau punya eomma sekarang,” ucapku dalam hati pada benda mati ditanganku

Entahlah aku merasa sedikit senang dengan pernikahan ini. Aku merasa kalau Sunghyo bisa menjadi pendamping yang baik untukku. Hah semoga saja

“lantai berapa apartementmu?” tanyaku pada Sunghyo saat kami sudah di berada di dalam lift. “ tiga belas,” ucapnya singkat. Lalu aku memencet tombol bertuliskan angka 13. Selama di lift kami hanya diam. Jujur, aku juga tidak tahu harus berkata apa.

 

—-…—-

 

Sunghyo POV

‘TING’

Kami sampai di lantai tiga belas. Aku memasukan jari telunjukku pada alat pendeteksi dan ‘KLIK’ pintu terbuka. Kyuhyun mengikutiku masuk kedalam apartement

“kau harus menemaniku menemui pihak keamanan apartement ini besok, kalau tidak aku tidak bisa keluar masuk rumah ini,” pintanya. Aku hanya mengangguk.

“taruh saja koper-koper itu dikamar, nanti biar aku yang menyusunnya dilemari,” Kyuhyun mengangguk, lalu memasuki satu-satunya kamar di apartement ini. Aku mengehempaskan tubuhku pada sofa berwarna merah maroon yang ada diruang TV apartementku. Aku memijat kakiku yang sedikit pegal. Bagaimana tidak? Berdiri memakai high heels dari pagi sampai sore.

“Hyo-ah aku lapar,” Kyuhyun duduk disebelahku lalu menyalakan TV. Kurasa dia seudah bisa menyesuaikan diri dirumah ini, terlihat dari sikapnya yang sudah menganggap rumah ini rumahnya sendiri. Tapi memang benar sih, ini rumahku, dan dia suamiku, sama saja kan.

“arraseo, kau mau makan apa?” tanyaku beranjak ke dapur. Kyuhyun mengikutiku ke dapur

“memang kau bisa masak apa saja?” ia duduk di meja makan yang berada di dekat dapur

“apa saja, dan kau mau apa?”

“jajangmyeon?” pintanya. Aku mengangguk mengiayakan. “kau tunggulah dulu, mungkin ini akan sedikit lama. Kau bisa menonton TV,” usulku sembari memerlukan bahan bahan yang kuperlukan dari dalam kulkas

“shireo! Aku ingin melihat istriku memasakkan makanan pertama untukku,” ucapnya yang berhasil membuatku menatapnya. Dan dia tersnyum. Keanapa dia berkata seperti itu? Sudahlah lupakan.

 

—-…—-

Aku tersenyum melihat Kyuhyun menyantap jajangmyeon buatanku dengan lahap. Aku senang jika orang lain menyukai masakanku.

“daebak! Ini enak sekali Hyo-ah, sudah lama sekali aku tidak merasakan bagaimana rasa jajangmyeon,” ia tersenyum. Senyumnya manis sekali. Manis?

“gomawo Kyuhyun-ah, aku takut kau tidak suka dengan jajangmyeon yang kubuat, ternyata sebailiknya. Aku senang,” aku lalu berjalan mengambil segelas air putih untuknya

“gomawo Hyo-ah, eommaku tidak salah memilih istri untukku,” ucapnya tersenyum sembari mengacak kecil rambutku. Aku tersenyum

“kau mau buah?” tawarku sambil membuka kulkas, dia menggelengkan kepalanya. Ternyata pesedian makananku sudah menipis, aku harus belanja sekarang. Bahkan aku tidak memiliki roti untuk sarapan besok

“Kyu, aku mau belanja ke supermarket dibawah dulu, persedian makanan habis,” ucapku lalu memasuki kamar, mengambil dompet dan memakai sweater putihku

“aku ikut,” Kyuhyun membuka kopernya, mencari sweaternya

“kalau seperti itu kau mencarinya, percuma saja aku membantumu melipat baju-baju ini dari lemarimu tadi,” aku menyuruhnya menyingkir. Aku ingat tadi menaruh sweaternya di koper bagian bawah. Aku mengambilnya dan memberikan pada Kyuhyun. Aku duduk di depan meja rias, sedikit kesusahan mengikat rambutku, karena aku tidak menemukan sisirku.

Tiba-tiba Kyuhyun berdiri dibelakangku, mengambil alih rambutku dari tanganku. Kyuhyun merapikan rambutku dengan jemarinya, lalu mengikatnya. Tidak buruk untuk ukuran pria. “gomawo,” ucapku.

“kajja, nanti keburu malam,” Kyuhyun merangkul pundakku. Aku sedikit kaget, tapi sudahlah, dia suamiku kan?

 

—-…—-

 

Aku mengambil bahan-bahan yang kuperlukan. Daging, sayur, baso, sosis, bumbu dapur, dan sebagainya. Sedangkan Kyuhyun dengan tenang mendorong keranjang belanja kami

“jangan lupa roti dan camilannya Hyo-ah,” aku mengangguk. Aku dan Kyuhyun berjalan ke arah camilan dan roti. Dia mengambil beberapa snack, coklat dan biskuit

Aku mengambil selai colkat kesukaanku, aku menengok kearah Kyuhyun yang masih asik memilih kopi yang ia inginkan. “kau suka selai apa Kyu?” aku sedikit berteriak, “blueberry,” ucapnya siingkat dan kembali fokus pada kopi-kopi yang ada

Lalu kami berjalan ke tempat dimana susu berada. Aku mengambil susu diet untukku, lalu Kyuhyun mengambil susu yang dikhususkan untuk pria. Aku menengok kearah keranjang belanjaku. Kebutuhanku bertambah sekarang. Aku tersenyum mengingat Kyuhyun yang sekarang menjadi suamiku

Setelah itu aku dan Kyuhyun memilih buah-buahan. Aku membeli cukup banyak buah kali ini. Jeruk, anggur, strawberry, dan sekarang aku sedang membantu Kyuhyun memilih apel. Kami memang benar-benar newly wed couple. Lalu kami mengambil beberapa ice cream. Dan berjalan menuju kasir. Setelah Kyuhyun membayar semua belanjaan kami, kami kembali ke apartement.

Kyuhyun menaruh barang belanjaan di meja makan dan aku menyusunnya di lemari es. Kyuhyun lalu masuk kedalam kamar. Setelah selesai merapikan belanjaan kami ke dalam kulkas, aku menyusul Kyuhyun kedalam kamar. Aku membuka sweaterku lalu memutar leherku yang cukup pegal. Aku naik ke tempat tidur, ah nyaman sekali di tempat tidur. Rasanya seperti berbulan bulan aku tidak menyentuh tempat tidur

“kau sudah mengantuk?” tanya Kyuhyun yang memainkan pspnya. Aku mengangguk, “kau tidak mengantuk? Apa kau tidak lelah seharian ini?” tanyaku sambil memejamkan mataku. “ani,” jawabnya lalu merebahkan tubuhnya disebelahku. Kurasakan tangannya menelusuri wajahku. Aku membuka mataku

“kau yakin sudah mengantuk Hyo-ah?” tanyanya lalu mencium keningku. Aku mengangguk, lalu Kyuhyun mencium hidungku. “Kyu…” aku menjauhkan wajahnya dari wajahku, tetapi wajahnya mendekat lagi kearahku.

“tapi aku belum mengantuk Hyo-ah,” ia mencium kedua pipiku bergantian, lalu mencium bibirku. Kyu melepas bibirnya dari bibirku lalu tersenyum penuh arti. Aku mengrenyitkan keningku, apa maksudnya? Kyu mengecup bibirku kilat

“yasudah kalau kau sudah mengantuk, ayo tidur, lagipula masih ada hari esok” dia menarik selimut menutupi tubuh kami berdua. Ah, aku mengerti maksudnya. Ternyata dia ingin kami melakukan hubungan suami istri. Kyuhyun menariku dalam pelukannya, aku hanya diam menerima perlakuannya. Rasanya nyaman berada dalam pelukannya.

Kyuhyun menyanyikan lagu untukku. Suaranya sangat bagus ternyata. Tapi, apa Kyu memang ingin melakukan hubungan suami istri itu? Yah memang ini malam pertama kami. Tapi jujur, aku belum siap dan aku sangat lelah

Tapi aku teringat dengan pesan eomma, ‘turutilah semua permintaan Kyuhyun sekalipun kau sudah sangat lelah, Kyuhyun itu suamimu’. Apa aku harus menuruti kemauannya atau tidak?

“hmm Kyu,” ucapku pelan, membuat Kyuhyun menghentikan nyanyiannya. “Wae?” pandangan Kyuhyun beralih padaku yang berada dalam pelukannya

“ng kalau kau memang… memang mau itu sekarang, aku tidak masalah kok,” ucapku sedikit gugup. Sedikit aneh bukan kalau seorang istri mengajak suaminya untuk berhubungan

“tidak usah, aku tahu kau lelah, lebih baik kau tidur saja,” Kyuhyun kembali membenamkan wajahku didadanya yang bidang

“jeongmalyo?” tanyaku meyakinkannya

“kau ini sedang menggodaku atau apa, huh?” tuh kan, dia malah menganggapku sedang menggodanya

“ani, aku ini istrimu, jadi aku harus menuruti keinginanmu,” aku melepas pelukannya padaku

“sekalipun kau sangat lelah?” tanyanya, aku mengangguk mantap. Aku harap keputusanku ini tepat. “kau yakin Hyo-ah?” lagi-lagi aku mengangguk. “arraseo, aku tidak menolak kalau kau memaksaku,” sedetik kemudian kurasakan bibir Kyuhyun sudah melumat bibirku, lembut, hangat. Ya! Siapa yang memaksanya?! Aku hanya menawarkan!

Kyuhyun menggigit bibirku pelan, memintaku untuk mengizinkan bibirnya menjelajahi bibirku lebih dalam. Perang lidah terjadi diantara kami. Kyuhyun semakin erat memelukku, dengan demikian aku mengalungkan lenganku pada lehernya

Ciuman Kyuhyun beralih keleherku. Tanganku menyusup di sela-sela rambutnya. Rambutnya halus. Tangan Kyuhyun masuk kedalam kausku lalu mengelus pelan perutku. Aku mendesah tak karuan saat Kyuhyun menghisap leherku. Kyuhyun mengangkat kausku, lalu ia membuka kaus yang dipakainya. Aku semakin kuat meremas rambutnya saat Kyuhyun menghisap dadaku.

Dia menarik celanaku, hingga kini aku hanya memakai bra dan celana dalamku. Kyuhyun berdiri dan membuka celananya lalu naik kembali ke tempat tidur. Dia menindihku. Menikmati tubuhku, kurasa. Lalu dia melepas bra dan celana dalamku, sehingga kami berdua tidak memakai apapun.

To be continued

Married to Cho Kyuhyun

Sunghyo POV

Senyuman dari pegawai kantor ini membuat moodku  menjadi semakin baik di pagi yang cukup cerah ini. Aku membalas senyuman mereka dengan senyuman termanis yang kupunya. “selamat pagi Sunghyo eonni,” sapa Park Jae In, juniorku, dengan eyesmilenya saat aku memasuki ruangan divisiku

“selamat pagi juga Jae In-ah,” aku membuat lengkungan bibirku sehingga lesung pipi ku terlihat .

“sepertinya pagimu indah eonni,” ucapnya sambil mengangkat cangkir kopi yang telah disiapkan oleh office boy lalu meminumnya

“eo, kurasa begitu juga denganmu,” aku meletakkan tasku dimeja, lalu menghidupkan Ipadku untuk mengecek jadwalku hari ini. Mmm, meeting dengan dewan direksi pukul 09.00, lalu menyambut klien dari London pada pukul 11.00 sekaligus menjamu mereka makan siang.

“mm, kau tahu eonni? Semalam Joongki oppa menyatakan perasaannya padaku,” ucapnya dengan mata yang berninar-binar. Aku tahu, ia pasti sangat senang karena akhirnya mendapatkan pujaan hatinya

“cukhae Jae In-ah. Dan bersikaplah dewasa, jangan terlalu sering memperlihatkan sikap childismu itu, kau sudah memiliki kekasih sekarang,” nasihatku dan hanya dibalas anggukan olehnya

“eonni do,  carilah kekasih eonni. Sudah cukup kau sendiri selama satu setengah tahun,” Jae In menghampiri mejaku lalu duduk diatas mejaku. Hal ini sudah biasa ia lakukan jika hanya ada kami berdua diruangan ini. Aku dan Jae In sangat dekat. Dia sahabatku dan juga Song Ji Eun, novelis yang cukup terkenal di Asia

Aku menghela napas mendengar ucapannya, “kau tahu Jae In-ah, kalau aku ingin fokus pada pekerjaanku dulu,”  entah sudah berapa kali aku mengulang ucapanku ini. Aku selalu menjawab seperti ini jika Jae In menyuruhku mencari kekasih. Bukannya aku tak mau, hanya belum

“terus saja seperti itu eonni, kau itu selalu saja beralasan seperti itu,” dia turun dari mejaku lalu kembali ke mejanya. Sekarang pukul 07.30 dan belum ada yang datang selain aku dan Jae In untuk divisi pemasaran

“ayolah eonni, kau itu cantik, cerdas, anggun, elegant, ditambah hatimu yang selembut kapas itu, aku rasa banyak namja yang mengantri untukmu,” ia memencet tombol smartphonenya, pasti dia sedang bermessenger ria dengan Joongki oppa.

 

“aku tahu kalau aku itu cantik, cerdas, anggun, elegant, berhati lembut, dan aku juga tahu kalau banyak namja yang mengantri unntukku seperti yang kau bilang itu. Dan kau tahu sendiri kalau aku tidak tertarik pada mereka,” aku mulai menyiapkan materi yang diperlukan untuk rapat direksi nanti

“oh eonni! Kau yakin kalau kau tidak tertarik satupun dari mereka?  Choi Siwon dari Hyundai corp dan Lee Donghae dari Life’s Good corp? Mereka idola para wanita eonni, dan perlu kau tahu kalau mereka menyukaimu,” ucapnya padaku menatapku tajam

“tapi tidak denganku Jae In-ah, oh ayolah, kenapa kau harus memikirnya kisah cintaku. Pikirkan saja Joongki oppa-mu itu,” aku meninggalkannya menuju ruangan Cho sajangnim – presiden direkur kami –  untuk menyerahkan  materi untuk rapat direksi nanti

—-…—-

 

Kyuhyun POV

Aku duduk diruang tunggu bandara untuk menunggu seseorang yang eomma kirim untuk menjemputku. Aku menyenderkan tubuhku pada bangku yang tersedia lalu aku mengeluarkan pspku dan memainkannya.

Belum lima menit aku memainkan game di psp-ku, handphoneku berbunyi.

Incoming call

Noona bawel…

Aku mengangkat panggilan dari Ahra noona “ya Cho Kyuhyun! Neo oddiya?! Sudah setengah jam aku menuggumu di parkiran. Cepat kesini!” klik. Noona memustus panggilannya. Ah, ternyata noona yang menjemputku. Benar benar noona yang bawel. Bahkan dia tidak memberiku waktu unutuk berbicara. Aku menghela napas lalu bangkit dari dudukku dan berjalan menuju tempat parkir.

Aku tersenyum saat melihat Mazda 2 berwarna hijau. Dasar maniak hijau, pikirku. Noonaku itu tak bisa jauh dari warna hijau, biru dan tosca. Aku membuka pintu mobil itu, duduk dikursi samping kemudi.

“aigoo! Captain Cho! Where have you been? masih ingat pulang rupanya. Kupikir kau sudah lupa dimana rumahmu,” ucap Ahra noona ketus. Tapi sedetik kemudian ia mencubit gemas pipiku lalu menarikku kepelukkannya. Aku membalas pelukannya

“kau ini! Sudah jarang pulang, jarang menghubungiku pula,” ia mengelus kepalaku. Hal yang selalu dilakukannya jika sedang memelukku. “rambutmu semakin halus,” tambahnya. Aku hanya tersenyum

“mianhae noona, aku sibuk sehingga jarang menghubungimu,” ucapku penuh nada penyesalan. Aku tahu, noona pasti kesepian jika tidak ada aku.

“gwenchana, kajja, kita pulang. Akan kubuatkan kau blueberry pancake kesukaanmu,”

 

—-…—- 

Author POV

“yeobo, siapa gadis tadi?” tanya nyonya Cho pada suaminya

“siapa jagi?” tanya tuan Cho tetap fokus pada materi yang baru saja Sunghyo berikan

“gadis yang barusan kesini yeobo, siapa dia?”

“Nam Sunghyo penanggung jawab pada divisi marketing. Waeyo?” kali ini tuan Cho memandang istrinya, heran. Tidak biasanya istrinya menanyakan siapa pegawainya

 

“dia cantik dan terlihat cerdas,” ucap nyonya Cho sambil tersenyum

“ne, dia memang cantik, dia itu incaran para bussines man muda dan dia memang pintar, dia lulus dengan gelar cumlaude dari Oxford,” jelas tuan Cho

“waah, daebak! Kurasa dia akan cocok dengan Kyu,”

“apa maksudmu jagi?” tanya tuan Cho bingung, sedangkan nyonya Cho hanya tersenyum evil –kau tahu sekarang darimana Kyuhyun mewarisi senyum evilnya- sambil memandang tuan Cho penuh arti. Tuan Cho mengangguk mengerti maksud istrinya.

 

—-…—-

 

Sunghyo POV

Aku menghempaskan tubuhku pada kursiku, lalu menarik napas dalam. Aku menepuk pipiku, menyadarkanku dari mimpi yang baru saja kualami. “akh sakit,” erangku pelan. Ternyata ini bukan mimpi, ini nyata. Tapi apa-apaan ini?

-flashback-

“Hyo-ah,” panggil Cho sajangnim saat aku hendak keluar ruang rapat. Aku memang cukup dekat dengan Cho sajangnim. Beliau sudah seperti ayahku di kantor ini.

“ne sajangnim?” tanyaku

“duduklah dulu, aku ingin bicara denganmu,” aku duduk ditempatku saat rapat

“waegeureyo sajangnim?” aku menautkan alisku. Aku penasaran dengan apa yang akan beliau bicarakan, apalagi empat mata seperti ini

“ada lelaki yang sedang dekat denganmu?” tanyanya sambil tersenyum. Aku menggelengkan kepalaku. Kenapa beliau bertanya seperti ini? Tidak biasanya, pikirku “lalu, ada orang yang kau suka?” aku menggelengkan kepalaku

“geure, namjachingu iseosso?” lagi-lagi aku hanya menggeleng. Karena aku memang tidak memiliki pacar

“keromyeon, ani, wae sajangnim? Wae kabjagi?” aku risih beliau bertanya seperti itu. Entahlah, kurasa itu sudah memasuki wilayah pribadiku

“kalau begitu, menikahlah dengan putraku,” pintanya sambil tersenyum

“MWO?! Apa maksud sajangnim?” aku rasa indra pendengaranku masih sangat baik, atau Cho sajangnim sedang mabuk sehingga berbicara seperti itu?

“kau mendengar dengan telingamu sendiri kan Hyo-ah? Aku memintamu menikah dengan anakku,” Cho sajangnim masih saja tersenyum. Apa beliau pikir ini lucu? Meminta pegawainya menikah dengan anaknya? Siapa anaknya saja aku tidak tahu

“sajangnim bercanda kan?”

“ani. Aku serius Sunghyo-ah, kuminta kau pikirkan lagi tawaranku itu. Dan ingat, aku tidak menerima penolakan,” ujarnya lalu meningglkan aku sendiri diruang rapat.

Apa itu katanya barusan? Aku tidak menerima penolakan? Itu artinya aku harus menerima tawarannya?

-flashback end-

“aaaaa molla molla molla!” aku berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Eomma na ottokhae?  Disuruh mencari pacar saja aku malas, ini, aku disuruh menikah dengan orang yang tidak aku ketahui asal-usulnya. Ralat, aku tahu asal-usulnya. Dia berasal dari keluarga Cho, keluarga terpandang di Korea. Aku yakin dia lelaki yang cerdas, attitude yang aku yakini pasti sangat baik, dan kurasa dia tampan, mengingat  Cho sajangnim yang cukup tampan untuk pria seumurannya.

Tapi pasti akan sulit menikah dengannya. Bagaimana dua orang yang tidak pernah bertemu, tiba-tiba harus menikah? “aaaaaa eomma!”

“eonni waeyo?” tanya Jae In yang baru saja memasuki ruangan. Aku menceritakan semua yang Cho sajangnim katakan padaku. Seluruh nya aku ceritakan pada Jae In tanpa dikurangi atau ditambahkan

“itu bagus eonni! Akhirnya kau akan segera menikah,” ucapnya gembira sambil berputar-putar kecil

“ya! Bagus dari mana? Aku tidak tahu siapa dia? Bagaimana orangnya. Kau malah dengan ringannya bilang kalau itu seuatu yang bagus?!” aku kesal dengan respon yang Jae In berikan, harusnya aku tak usah memberitahunya

“jeongmallyo? Eonni tak tahu siapa itu Cho Kyuhyun?” Jae In mendekatkan wajahnya kedepan wajahku

“Cho Kyuhyun? Nugu?” siapa lagi itu Cho Kyuhyun. Dan kenapa Jae In tahu banyak orang? Mulai dari Choi Siwon, Lee Donghae, dan sekarang Cho Kyuhyun?

“aish! Eonni tidak tahu siapa dia? Padahal kau yang akan menikah dengannya. Dia itu putra satu-satunya keluarga Cho yang sedang mengurus Cho corp di Australia, tiga tahun belakangan ini,” jelasnya. Tuh kan, dia tahu lebih banyak dari pada aku. Padahal aku yang lebih dulu bekerja disini

“kau itu jangan asal bicara, siapa yang akan menikah, huh?” ucapku kesal

“terserah kau eonni, asal kau tahu, dia itu perfect. Jadi jangan ragu, oke?” ucapnya lalu berlalu keluar ruangan.

To be continued…

 


 

Janda Ketemu Duda Part I

hallo reders.. akhirnya, saya post ff lagi setelah sekian lama haha

aku coba nuis lagi, dan jadinya malah abal haha

sudahlah, selamat menikmati(?) ff abal saya XP

maaf kalo ada typo, males edit hehe

—–….—-

Hidup ini adalah pilihan. Itu terjadi disaat kau memulai harimu. Kau memilih untuk bangun atau tetap berdiam ditempat tidur. Kau memilih untuk sarapan atau tidak sarapan, dan hal kecil lainnya. Sampai kau diharuskan untuk memilih hal yang terbaik untuk hidupmu. Begitupun denganku. Aku diharuskan memilih untuk tetap berada disisi suamiku yang pemukul, arogan, dan  penjahat wanita  atau memilih untuk berpisah dengannya untuk kebaikanku dan membuat jabang bayi yang ada dikandunganku tidak memiliki seorang ayah.

Tapi sekali lagi, hidup itu adalah pilihan. Pada akhirnya, aku memilih untuk berpisah dari suamiku yang sama sekali tidak kucintai dan merawat calon bayiku seorang diri.

Aku, Nam Sunghyo, sebelumnya menikah dengan pria bernama Kim Junghwan. Seorang pemilik agensi model dan seorang penjahat wanita. Karena , ternyata dia selalu meniduri setiap model yang baru bergabung diperusahaannya dengan alasan agar karir si model tersebut lancar.

Aku menikah dengannya karena perjodohan yang diatur oleh kakek kami berdua. Aku menikah diusia yang sangat muda, dua puluh satu tahun. Tepat sebulan setelah aku lulus dari universitas. Awalnya ia bersikap baik, tapi lama kelamaan sifat buruknya itu terbongkar. Dia selalu mengancamku agar aku tidak memberitahukan kelakuannya yang bejat itu pada keluarganya. Dia juga kerap melakukan kekerasan padaku jika aku melakukan kesalahan.

tapi kini kurasa pilihanku untuk berpisah dengannya adalah pilihan yang tepat. Tak peduli pada saat itu aku sedang hamil tua. Dan tak lama setelah kami bercerai, dia ditangkap oleh pihak kepolisian karena salah satu model perusahaannya ada yang melapor. And now, he’s in the jail.

 

—-…—-

5  years later…

“eomma,”  sesosok anak kecil memanggilku.

“kau bangun Jihyun-ah,” aku mengelus rambutnya lalu mengangkatnya kepangkuanku. Gadis kecil ini adalah anakku, Nam  Jihyun. Usianya sudah lima tahun. Jihyun lahir sebulan setelah mantan suamiku masuk penjara

“eomma, haus,” ucapnya sambil mengucek matanya yang masih terpejam

“arraseo, “ aku berjalan ke dapur dan membuatkan susu serta satu tangkap roti untuknya

“eomma, hari ini kita pergi kemana?” tanyanya lalu meminum susu colkat kesukaannya

“memang Jihyun mau kemana sayang,” aku dan Jihyun memang selalu pergi refreshing. Biasanya kami akan pergi ke mall dan berbelanja atau pergi bertemu sahabat-sahabatku, atau juga pergi kerumah orangtuaku. Pernah juga beberapa kali aku mengajaknya kerumah keluarga Kim, orangtua mantan suamiku. Bagaimanpun juga, Jihyun juga cucu mereka

“kita pergi ke mall eomma, aku ingin barbie baru, ya eomma?” pintanya diikuti puppy eyesnya. Aku memang selalu memenuhi permintaannya selagi aku bisa. Tapi tentu saja tidak semudah itu, Jihyun harus melakukan sesuatu terlebih dahulu. Seperti, menurutiku dan sebagainya. Biar dia tahu, kalau menginginkan sesuatu tu harus berusaha terlebih dahulu

“oke, tapi Jihyun harus mau mengikuti les matematika ya?” aku mengelus pipinya

“na shirreo! Untuk apa aku ikut les? Aku rasa aku sudah cukup pintar,” Jihyun mengerucutkan bibirnya dan memalingkan mukanya

“eomma tahu Jihyun pintar, tapi apa salahnya menambah ilmu supaya Jihyun tambah pintar?” rayuku. Aku harus berhasil kali ini. Seringkali aku memintanya untuk mengikuti les tersebut, tetapu dia selalu menolak

“shirreo eomma,”

“ayolah Jihyun, Jihyun tahu kan eomma tidak bisa selalu membantu Jihyun belajar. Eomma kan bekerja sayang,” aku benar benar memohon kali ini

Memang setelah bercerai, aku memutuskan untuk bekerja. Karena sayang sekali jika ilmu yang sudah susah susah kudapat dibangku kuliah jika tidak digunakan. Dan sekarang aku bekerja sebagai editor majalah milik perusahaan keluargaku

“arraseo eomma,” ucap Jihyun lalu memelukku. Akhirnya…

 

—-…—-

 

Tok tok tok…

“masuk,”

“direktur Cho sudah datang, aggashi,” ucap Jinri, assistenku

“suruh beliau masuk Jinri-ya,” aku merapikan beberapa berkas dimejaku, dan sedikit merapikan penampilanku. Kau harus membuat first impression yang baik untuk rekan kerjamu

“annyeonghaseyo,” ucapku begitu melihat sosok pria yang kutafsirkan berumur dua puluh tujuh tahun itu masuk kedalam ruanganku

“anyyeonghaseyo,” ucapnya sembari tersenyum. Aku pikir direktur Cho itu berumur empat puluhan, ternyata masih muda. Aku rasa akan mudah bekerjasama denganya

“silahkan duduk, Cho Kyuhyun-ssi,” aku mempersilahkannya

“ne, gamsahamnida,” ia duduk di sofa dihadapanku

 

—-….—-

 

Aku memasuki apartmenetku sambil memijit pundakku yang sedikit pegal. Setelah berbincang dengan direktur Cho tadi siang, aku masih harus menandatangani berkas-berkas perusahaan dan menghadiri bebrapa meeting. Akhirnya sebentar lagi aku akan merasakan bagaimana nyamannya kasur.

Aku memang selalu pulang kerumah sebelum jam makan malam. Dan Jihyun selalu ditemani oleh nanny yang kusewa untuk menjaganya dirumah selama weekday

“eomma wasseo,” aku berjongkok dan memeluk Jihyun. Rasanya aku kangen sekali dengannya

“eo, Jihyun tadi pergi les kan?” hari ini jadwal Jihyun memulai les matematikanya

“iya dong eomma, aku kan udah janji sama eomma,” aku mencium pipinya gemas

“terimakasih sayang,” aku mengacak rambutnya pelan

“cheon eomma, ada halmeoni eomma,” ucapnya. Untuk apa eomma kesini? Biasanya beliau datang kesini pada saat weekend

“eomma, wasseo, tumben eomma datang kesini,” ucapku lalu mengambil minum kedapur untuk eommaku

“wae? Salah kalau eomma datang menemui anak eomma dan cucu eomma sendiri,” eomma mendudukkan Jihyun dalam pangkuannya. Aku menaruh lemon tea dan beberapa biskuit dimeja

“ani, keunyang, wae kabjagi?” aku duduk disamping eomma dan mengganti channel TV dari acara kartun menjadi TV series favoritku Cougar Town. TV series itu sangat menarik.

“Jihyun-ah, kau mau punya appa baru?” pertanyaan eomma membuatku yang sedang meminum lemon tea tersedak

“eomma, apa apaan sih?” aku menaruh cangkir teh yang kupegang

“Hyo-ah,” ucap eomma seraya menurunkan Jihyun dari pangkuannya lalu beralih menghadapku

“wae eomma?” kenapa suasananya jadi serius seperti ini?

“Jihyun-ah, mau nggak punya appa baru?” sekali lagi eomma bertanya pada Jihyun. Jihyun mengangguk. “emang halmeoni bisa kasih Jihyun appa baru?” tanya Jihyun polos

“bisa dong sayang, bahkan nanti Jihyun punya oppa, mau nggak?”

“mau! mau! mau!” ujarnya senang “yea! Aku punya appa dan oppa! Jadi nanti teman temanku nggak akan ada yang ngejek lagi eomma,” ucapnya dengan mata berbinar dan memelukku. Jadi, selama ini Jihyun diejek teman temannya karena tidak memiliki ayah?

Kurasakan tangan eomma menyentuh tanganku. “Hyo-ah, eomma tahu kau pasti mengerti maksud eomma. Kau sudah terlalu lama sendiri untuk mengurus Jihyun Hyo-ah,” ucap eomma masih dengan nadanya yang serius

“na gwenchana eomma. Aku bisa mengurus diriku dan Jihyun sendiri,” aku memalingkan muka

“eomma tahu selama ini kau sanggup merawat Jihyun sendirian, tapi eomma juga tahu kalau sebenarnya kau itu kesepian Hyo-ah, dan kau lampiaskan itu dengan bekerja,” eomma membalikkan wajahku kembali menghadapnya

“coba dulu ya sayang,” pintanya lalu mengelus pipiku

“eomma, aku nggak mau lagi dengan asal menerima perjodohan yang dibuat keluarga kita, aku nggak mau kaya dulu lagi eomma,” aku menitikkan air mata mengingat pengalaman pahitku dengan pernikahan. Aku hanya tidak ingin hal seperti dulu terulang lagi

“mianhae sayang, bukan maksud eomma untuk mengingatkanmu akan masa lalumu. Kali ini eomma yakin kalau pilihan eomma ini tepat,”

“tapi eomma…” ucapanku terputus, aku bingung harus bicara apa. Tapi aku juga memikirkan Jihyun yang selama ini diejek teman temanya, dan Jihyun yang sudah terlanjur senang karena akan mempunyai appa dan oppa baru. Eh? Oppa?

“apa maksud eomma dengan Jihyun akan punya oppa baru?”

“pria itu duda sayang, dia memiliki satu anak lelaki. Dia satu tahun diatas Jihyun. Istrinya meninggal saat melahirkan anaknya enam tahun yang lalu,” semua penjelasan eomma seakan menjawab pertanyaanku

“mau ya sayang, kau dan pria itu sama sama single parent, pasti dia juga mengerti perasaanmu. Mau ya? Demi Jihyun Hyo-ah,” aku hanya diam. Entah harus menerima atau menolah permintaan eomma kali ini. Kalau aku menolak, aku pasti akan membuat Jihyun yang sudah teranjur bahagia menjadi sedih. Tetapi kalau aku menerima ini, aku takut kejadian seperti dulu terulang lagi.

Tapi hidup itu adalah pilihan. Dan aku harus memilih. Aku mengangguk “ne eomma,” jawabku. Semoga pilihanku ini tepat untukku dan juga untuk Jihyun…

 

 

 

 

 

S.M the Ballad @KTR (official photo)

 

 

 

credit: as tagged

Gayo Daejun 2010 Promo Video

The Baby Sitter Part 3

Aku menaruh Jihyun di tempat tidurnya. Kulihat Kyuhyun menaruh boneka beruang yang kami beli tadi disebelah Jihyun.
Lelah juga rasanya kami pergi seharian ini, setelah itu, aku dan Kyuhyun harus mengantar nyonya Cho ke Busan untuk menghadiri acara reuni SMA nya. Dan nyonya Cho akan menginap di Busan selama 2 hari, yang artinya hanya akan ada aku dan Kyuhyun, dan tentu saja Jihyun dirumah ini. Karena bibi Kim sedang pulang kerumahnya di Mokpo.

“kau tidurlah Hyo~ah, kau pasti capek seharian ini menggendong Jihyun,” katanya sambil menyelimuti Jihyun

“kau juga pasti lelah sekali Kyuhyun~ah, ditambah lagi besok kau harus bekerja,” aku tidak tega melihat wajahnya yang lelah itu. Ingin rasanya aku menyentuh wajahnya yang tampan. Ah tidak! Apa yang barusan aku pikirkan?

“apapun aku lakukan jika itu membuat Jihyun senang,” ucapnya lalu bangkit dari tempat tidur Jihyun.
“gomawoo Hyo~ah kau telah menjaga Jihyun, Jihyun banyak tertawa akhir-akhir ini, mungkin dia menginginkan sosok seorang ibu,” Kyuhyun memelukku. Entah kenapa, dengan sendirinya aku membalas pelukan Kyuhyun.

“aku tulus menyayangi Jihyun seperti anakku sendiri, Kyuhyun~ah,” aku mengusap punggungnya pelan
“gomawoo, jeongmal gomawoo,” Kyuhyun memelukku semakin erat. Kubiarkan Kyuhyun memelukku. Mungkin ia sedang ada masalah di kantor dan butuh tempat untuk bersandar.

“kau tidurlah, ayo kuantar,” jujur sangat disayangkan, Kyuhyun melepaskan pelukannya.
“jaljayo,” ucapnya lalu memelukku singkat dan mencium keningku saat di depan kamarku.
Tunggu! Dia menciumku? Di kening? Aaaaaaa aku senang sekali!
Kata orang, ciuman dikening dari seorang pria berarti pria tersebut percaya padamu, apapun yang kau lakukan. Aaaaaaaaaaa >.<

***
“maaf tuan Lee saya rasa perjodohan ini tidak bisa dilaksanakan dalam jangka waktu dekat, karena Sunghyo harus pergi ke Paris untuk urusan pekerjaannya,” jelas tuan Choi pada tuan Lee saat mereka bertemu makan malam untuk membahas perjodohan yang mereka buat

“tenang saja Dongwook~ah aku bisa menunggu,” respon tuan Lee terhapan penjelasan temannya itu. “lalu kapan putrimu kembali dari Paris?” tanya tuan Lee sembari menyesap kopi hitamnya.

“entahlah, dia belum mengabari kami kapan dia akan pulang. Katanya masih sibuk,” tuan Choi memakan sirloin steak yang ia pesan.

Tanpa diketahui tuan Lee, tuan Choi telah berbohong

***

“ah apa yang aku lakukan tadi?! Kenapa aku harus menciumnya?! Kau bodoh Cho Kyuhyun!” gumam Kyuhyun pelan setelah ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
Entah apa yang dirasakan seorang Cho Kyuhyun. Dia merasa sekarang ia sangat nyaman berada di dekat seorang Choi Sunghyo yang notaben nya adalah baby sitter anaknya.

Kyuhyun yakin, tidak hanya dia yang merasa nyaman berada di dekat Choi Sunghyo, anaknya pun merasakan hal yang sama. Bahkan ibunya sekalipun. “apa Hyo bisa jadi pengganti Chaejin?” tanya Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Kyuhyun tidak bisa tidur malam ini. Dia memikirkan tentang suatu kenyataan pada dirinya. Kenyataan bahwa dia mulai menyayangi Choi Sunghyo, si baby sitter. Dia sudah berusaha untuk tidur, tetapi saat ia mulai memejamkan matanya, bayangan Sunghyo yang sedang tersenyum tulu pada Jihyun selalu mengganggunya.

“huwaaaaa huwaaaaa,” tiba-tiba terdengar suara tangisan Jihyun. Langsung saja Kyuhyun keluar dari kamarnya menuju kamar Jihyun.

Ternyata disana sudah ada Sunghyo yang menenangkan anak semata wayangnya.
Jihyun tertidur damai digendongan Sunghyo. Kyuhyun menghela nafas lega.
Tetapi sedetik kemudian Jihyun menangis lagi. Sekarang Sunghyo terlihat panik.

“Jihyun panas,” ucapnya pada Kyuhyun

***

“Jihyun panas,” ucapku pada Kyuhyun
“apa sebaiknya kita bawa ke dokter,” raut muka Kyuhyun tidak jauh berbeda denganku, panik.

“tapi, apa ada dokter yang masih buka semalam ini? Sekarang sudah pukul satu pagi Kyu,” ucapku sembari menimang-nimang Jihyun yang berada digendonganku. Kyuhyun hanya diam. Aku tahu dia pasti bingung harus melakukan apa.

“sebaiknya aku kompres saja dulu untuk menurunkan panasnya,” aku meletakkan Jihyun di tempat tidur dan segera berlari ke dapur untuk mengambil kompres.

Aku panik. Sangat panik. Entah kenapa naluri keibuanku muncul saat-saat seperti ini, tapi itu justru bagus.
Saat aku kembali, kulihat Kyuhyun berusaha menenangkan Jihyun dengan menggendongnya.

“apa tidak apa-apa jika kita hanya mengompresnya?” tanya Kyuhyun yang duduk di tepi kasur

“aku rasa aka baik-baik saja, karena dari buku yang kubaca, ini masih demam wajar. Akan menjadi berbahaya jika Jihyun sudah mulai rewel, kemungkinan besar ia akan terkena demam berdarah,” jelasku sambil terus mengompresnya.
Kyuhyun hanya mengangguk mengerti.

“gomawoo Hyo~ah,” ucapnya tiba-tiba
“gwencana Kyu,” balasku sambil tersenyum tulus.

“lebih baik kau tidur¸besok kan kau harus bekerja,” aku menaruh baskom kecil berisi air kompresan itu dikamar mandi di dalam kamar Jihyun.
“entah kenapa aku tidak bisa tidur, mau temani aku ngorol?” tawarnya.
Sebenarnya aku ingin menerima tawaran itu. Tapi saat melihat wajah lelahnya, aku jadi tidak tega.

“eng…”
“ayolah Hyo, aku benar-benar tidak bisa tidur malam ini,” dia menepuk sofa yang ia duduki. Menyuruhku duduk disebelahnya. Aku pun berjalan kearah sofa tersebut dan duduk disebelah Kyuhyun.

“kenapa kau tidak bisa tidur Kyu?” tanyaku
“entahlah, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku,” ia mendesah pelan
“apa masalah pekerjaan?” tanyaku hati-hati, takut-takut salah bicara

“annio, tapi masalah hati,” ucapnya sambil tersenyum. Pandangannya menerawang keluar jendela.
“hati?” tanyaku tidak mengerti arah pembicaraannya.

“ah sudahlah lupakan,” Kyuhyun menatapku sekilas lalu ia kembali merawang keluar jendela.
Tiba-tiba Kyuhyun berjalan kearah DVD player dimana biasanya aku menyetel musik klasik untuk Jihyun.
Kyuhyun menyetel musik klasik milik Jihyun.

Kyuhyun menyenderkan kepalanya dibahuku. Aku tidak bisa menolak, entah kenapa.
“Kyu,,,” ucapku
“biarkan seperti ini Hyo~ah, sebentar saja,” pintanya

***

Nonya Cho yang baru turun dari taksi langsung memasuki rumahnya. Ia menaruh tas yang ia bawa di meja ruang keluarga.
Ia langsung menaiki lantai dua, dimana kamar Jihyun berada, yang juga disana ada Kyuhyun dan Sunghyo. Tentu saja nyonya Cho tidak tahu kalau Kyu dan Hyo berada dikamar Jihyun.

“omo!” pekik nyonya Cho ketika memasuki kamar Jihyun. Tentu saja ia terkejut melihat pemandangan didepannya. Kyuhyun dan Sunghyo sedang tidur disofa, bersama dalam keadaan bepelukan.

Nyonya Cho menggendong Jihyun yang tersenyum melihat ‘oemma’ dan appanya yang sedang berpelukan .
Lalu nyonya Cho berjalan kearaj sofa dan mulai menggoyangkan tubuh Kyuhyun

“Kyu ireonawa,” ucapnya
“ngghh,” Kyuhyun malah makin mengeratkan pelukannya pada Sunghyo
“Kyu,”
“sebentar lagi eomma,”

***

Eomma?!
Sunghyo yang mendengar kata ‘oemma’ segera membuka matanya. Dilihatnya Kyuhyun yang tengah memeluknya erat, masih memejamkan matanya. Lalu ia menoleh ke sumber suara, dan pandagannya sampai pada nyonya Cho yang sedang tersenyum melihatnya. Lalu ia menggoncangkan tubuh Kyuhyun pelan, dan sukses. Kyuhyun terbangun.

Kyuhyun tersenyum saat melihat oemmanya. Lalu ia menoleh kesebelah kirinya, dimana ada Sunghyo, didalam pelukannya. Matanya terbelalak. Kaget.
“kalian ini, seharusnya kalian menikah saja,” ucap nyonya Cho menggoda
“lihat Jihyun saja senang kalian bersama, ya kan Jihyun?” Jihyun hanya tersenyum.

***
Apa maksud nyonya Cho barusan? Apa ia menginginkan aku agar menikah dengan Kyuhyun? Ah entahlah!
Kyuhyun tersenyum memandangiku. Aku menunduk malu. Pasti mukaku sudah memerah

“sudah Jihyun, ayo kita keluar, jangan ganggu oemma dan appamu,” ucap nyonya Cho lalu melangkah keluar kamar dan meninggalkan aku dan Kyuhyun berdua saja.
Hening.
“ng..” gumam Kyuhyun pelan
“ya?” tanyaku

“annio, kurasa kita harus mempertimbangkan perkataan oemma tadi,” ucapnya sambil menggerling nakal kearahku
“hah?” jujur aku masih kurang mengerti maksudnya
“ah kau ini Hyo~ah. Sudahlah aku mandi dulu ya jagiya,” ucapnya lalu mengecup pipiku. Hah? Apa maksudnya?

tbc…..

 

The Baby Sitter Part 2

“Hyo~ah kenalkan, ini anakku, Cho Kyuhyun. Ayah Jihyun,”

***

“annyonghaseyo,” ucapku ramah pada ayah Jihyun.
“annyonghasseyo,” ucapnya dengan muka datar.
“Jihyun~ah annyong, appa wasso,” ucapnya sambil tersenyum pada Jihyun. Jihyun yang melihat appanya pun tertawa. Lalu tuan Cho Kyuhyun mengambil Jihyun dari gendonganku.

“kuharap kau bisa menjaga Jihyun dengan baik,” pesan nya padaku. Aku hanya mengangguk.

***
Aku menaruh barang-barangku dikamar yang disediakan nyonya Cho untukku.
Ternyata ayah dari bayi yang kurawat tidak seperti yang aku pikirkan –lelaki berumur tiga puluh lima dengan rambut yang sudah memutih- ternyata dia masih sangat tampan. Dan kata nyonya Cho dia hanya berumur dua tahun diatasku. Itu berarti umurnya baru dua puluh enam tahun.

“Hyo~ah apa kau sudah selesai?” tanya orang dibalik pintu kamarku. Nyonya Cho.

“ne, ada apa nyonya?” kataku setelah membukakan pintu.
“aku ingin pergi ke acara pernikahan temanku sebentar, bisa kau temani Jihyun bermain sambil menonton televisi?”
“ne, baik nyonya,”
“gomawoo Hyo~ah,”

Aku berjalan keruang televisi. Tenyata disana ada Jihyun dan ayahnya. Ayahnya memangku Jihyun sedangkan Jihyun menghisap jempol ayahnya. Lucu sekali mereka.

“Jihyun~ah annyong,” ucapku pada Jihyun, dia tersenyum
“Jihyun~ah kau sama tante Sunghyo dulu ya, appa mau melanjutkan pekerjaan appa lagi, nanti kita main lagi, arro?” kata Cho Kyuhyun pada anaknya. Jihyun tersenyum, Cho Kyuhyun mencium pipi anaknya lembut lalu tersenyum. Aku baru sadar kalau senyumnya sangat menawan.

“aku titip Jihyun,” ucapnya padaku.
“ne,” aku menganggukan kepalaku.

Cho Kyuhyun memasuki ruang kerjanya. Sedangkan aku hanya berdua bersama Jihyun menonton kartun. Kata Nyonya Cho, Jihyun suka sekali dengan Mickey Mouse.

“oemma…” ucap Jihyun padaku sambil tersenyum. Aku kaget, Jihyun menyebutku oemma.
“oemma anniragu, naneun Sunghyo ajumma,” kataku sambil tesenyum
“oemma,” ucapnya lagi
“ajumma,” kataku tersenyum perihatin.
“oemma-ha aaaaa,” tiba-tiba Jihyun menangis. Aku panik.
“cup cup, uljima Jihyun~ah,” aku mencoba menenangkan Jihyun
“oemma haaaaaaaaaaaaaa,” kini Jihyun berteriak cukup keras sehingga membuat tuan Kyuhyun keluar dari ruang kerjanya

“ada apa ini? Kenapa Jihyun menangis?” dia mengambil Jihyun dari gendonganku
“oemma haaaaa,” Jihyun masih menangis.

“aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia menangis saat aku bilang bahwa aku bukan oemmanya,” Tiba-tiba rauh wajah seorang Cho Kyuhyun berubah sedih.
“mungkin Jihyun hanya ingin bertemu dengan oemmanya,” ucap tuan Kyuhyun sambil menimang-nimang Jihyun. Jihyun masih menangis
“oemma haaaa,”
“Jihyun~ah uljima,” ucapku sambil mengelus keringan berukurang biji jagung di keningnya.
Tiba-tiba Jihyun membuka tangannya, meminta aku menggendongnya. Aku mengambil Jihyun dari gendongan tuan Kyuhyun

“sssst uljima Jihyun~ah,” aku menimangnya
“oemma…” ucapnya, sudah tidak menangis lagi. Aku tersenyum saat Jihyun mengambil tanganku yang sedang menghapus air matanya. Jihyun memainkan jariku.
“oemma…” ucapnya lagi.

“maafkan aku Hyo~ah,” aku mengrenyitkan keningku
“maafkan aku karena Jihyun memanggilmu oemma,” katanya
“gwenchana, mungkin Jihyun hanya rindu pada oemmanya,” jujur aku merasa tidak enak berkata seperti barusan.

“oiya, panggil saja aku Kyuhyun,” pintanya
“ne, kau kembalilah bekerja, biar Jihyun bersamaku,”
Kyuhyun hanya mengangguk. “gomawoo,” Kyuhyun tersenyum padaku. Aku hanya tersenyum membalasnya.

***

“bagaimana Siwon~ah, kau sudah tahu dimana Sunghyo sekarang?” tanya nyonya Choi cemas.
“belum oemma,” aku sudah berusaha mencarinya
“ya Tuhan, tolong lindungi Sunghyo kami,” doa nyonya Choi
“pasti Tuhan akan melindungi Hyo oemma,” ucap Siwon menenangkan oemmanya.

***

Sudah hampir sebulan aku bekerja dirumah ini. Dan aku sudah semakin dekat dengan Jihyun. Dia bayi yang sangaaaaat lucu. Dan nyonya Cho sangat baik padaku. Ia memperlakukanku sebagai anggota keluarganya. Begitu juga Kyuhyun. Dan selama ini keluargaku belum menemukanku. Entah kenapa aku senang. Aku masih ingin tinggal disini, bersama Jihyun dan juga… Kyuhyun.

“Hyo~ah kau sudah siap?” suara Kyuhyun terdengar dari luar kamarku.
“ne, sebentar lagi aku selesai,” jawabku
“baik, aku dan eomma menunggu di ruang televisi,”
“ne,”
Hari ini aku, Kyuhyun, Jihyun, dan nyonya Cho akan pergi menghadiri pameran anak-anak. Dan disana akan ada Mickey Mouse, favorit Jihyun.
Aku memakai dress santai selutut berwarna hijau toska, dan bando berpita berwarna merah. Selama bekerja sebgai baby sitter nyonya Cho tidak memperbolehkan aku memakai seragam baby sitter, dia tidak suka melihatnya. Jadi aku memakai pakaian kasual biasa.

“kau cantik. Sangat cantik,” puji nyonya Cho padaku
“ya, kau cantik,” ucap Kyuhyun menimpali. Aku tersipu malu saat Kyuhyun memujiku. Kyuhyun sangat terlihat sangat tampan mengenakan kemeja putih yang digulung lengannya.
“oemma,” Jihyun tersenyum padaku. Memamerkan gigi kelincinya yang baru tumbuh
“Jihyun~ah kyeopta,” aku mencubit pipinya pelan. Dia hanya tertawa
“kajja, nanti kita telat,” ucap nyonya Cho.

Kyuhyun jalan didepanku sambil membawa dorongan yang sudah dilipat untuk Jihyun. Sedangkan aku menggendong Jihyun.

“seperti suami istri saja,” ucap nyonya Cho pelan. Aku menengok kebelakang
“wae? Tadi nyonya bilang apa?” tanyaku memastikan
“annio, kajja,”

***
Ternyata tempat yang kami datangi sudah cukup ramai.
Aku masih mengeendong Jihyun. Dan Kyuhyun berjalan disebelahku sambil mendorong kereta dorong milik Jihyun. Dan nyonya Cho berjalan di sisiku yang lain.

“wah, cantik sekali adiknya seperti oemmanya,” seorang pramuniaga sebuah produk susu menghampiri kami
Nonya Cho dan Kyuhyun hanya tersenyum. Mau tak mau aku ikut tersenyum.
“adik namanya siapa?” tanya pramuniaga itu.
“Jihyun,” ucapku.
“Jihyun susunya apa ya bunda kalau boleh tahu?” tanya pramuniaga itu padaku
“ah~ oemma mau cari tempat duduk dulu, Kyu kau temani Hyo disini,” kata nyonya Cho tiba-tiba
“ne, hati-hati oemma,” kata Kyuhyun
“mm, susunya baby milk, waeyo?” tanyaku
“ah karena bunda sudah memakai produk kami, kami akan memberikan diskon khusus kalau bunda membeli baby milk di stand kami. Dan akan ada paket khusus, bagaimana bunda?” tawar pramuniaga tersebut
“boleh,” ucap Kyuhyun
“baik saya akan ambilkan dulu sebentar,”
“ne,” anggukku
“ini, terimakasih,”
“ne,” ucap Kyuhyun seraya mengabil paket tersebut lalu meletakkannya di kereta dorong Jihyun
“mm, ayah bunda, bisa kami foto sebentar untuk kenang-kenangan,”
“ah, ne,” ucapku
Ah~ apa apaan ini. Aku harus difoto bersama Kyuhyun dan Jihyun. Kami seperti keluarga kecil saja.
“kamsahamnida ayah, bunda bye Jihyun,” kata pramuniaga itu saat kami selesai berfoto. Jihyun hanya tersenyum

tbc….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.